Forum Berbagi Aksi Nyata - Budaya Positif di Lingkungan Sekolah
PENERAPAN AKSI NYATA- BUDAYA POSITIF
BY. Shinta Komalasari – CGP Angkatan 4 – SMPN 19 Tangerang Selatan
Pendahuluan
Ki Hadjar Dewantara mengumpamakan sekolah sebagai sebuah ladang tempat persemaian bibit, agar bibit bisa perkembang secara maksimal maka petani dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara bibit tanaman, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup bibit tanaman dan lain sebagainya.
Murid adalah bibit, sedangka guru merupakan petani yang bertanggung jawab mendidik, mengajar dan merawat para murid sehingga mampu mengembangkan potensinya.
Guru bukan hanya sosok pendidik yang sekedar memberi tuntutan (nilai angka) dalam belajar, melainkan juga sebagai sosok pengajar yang menanamkan nilai-nilai kehidupan, moral, atau ilmu-ilmu esensial ke dalam diri anak-anak sehingga mereka memiliki kecakapan lahir dan batin.
Karakter pendidikan yang ingin ditunjukkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang memanusiakan manusia.
Salah satu cara yang dilakukan guru dalam membantu siswa tumbuh maksimal mempunyai karakter profil pelajar Pancasila adalah dengan membangun budaya positif yang berpihak pada murid, membangun keyakinan atau visi sekolah yang menumbuhkan dan mengembangkan budaya positif. Dalam mewujudkan budaya positif perlu adanya disiplin positif.
Apa itu Budaya Positif?
Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah kita. Lazimnya disiplin dikaitkan dengan kontrol. Dalam hal ini kontrol guru dalam menghadapi murid.
Dr. William Glasser dalam Control Theory menyatakan ada beberapa miskonsepsi tentang kontrol, antara lain:
1. Ilusi guru mengontrol murid.2. Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat.
3. Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter.
Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai, jadi kita sebagai guru tidak bisa mengontrol anak kita, seandainya mereka mengikuti apa yang kita mau, itu semata karena terpaksa mengikutinya. Begitupun sebaliknya saat kita membujuk murid kita agar mereka mau melakukan hal baik jika hal itu bukan kemauan yang berasal dai dalam dirinya, efek negative yang akan timbul mereka akan tegantung dengan pendapat guru untuk berusaha
Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol? Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991) mengatakan bahwa,
“..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia, bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”.
Konsep Disiplin Positif dan Motivasi
Kebanyakan orang akan menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan. Kata “disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman, padahal itu sungguh berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, justru itu adalah salah satu alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali.
Dalam budaya kita, makna kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan.
Ki hajar Dewantara menyatakan “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.
Ki Hajar Dewantara dan Diane Gossen memiliki pandangan yang sama tentang makna discipline, yaitu:
menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.
Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Jika murid-murid kita memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi yang ketiga pada murid-murid kita yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.
Keyakinan Kelas
Setiap tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif. Untuk terbentuknya budaya positif pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas.
Berikut beberapa contoh keyakinan kelas yang sudah saya buat bersama dengan murid saya.
Langkah-langkah yang diambil dalam membuat keyakinan kelas adalah sebagai berikut.
2. Menanyakan cara/langkah untuk mencapai kelas impian mereka
3. Membuat simpulan dari ide-ide siswa dengan melibatkan siswa
4. Mengabstraksi ide-ide siswa menjadi keyakinan kelas
Sebelum Keyakinan Kelas terbentuk, saya meminta murid-murid untuk menuangkan ide tentang kelas impian Bahasa inggris mereka seperti apa kemudian ide-ide mereka diabstraksikan menjadi sebuah keyakinan Kelas.
Berikut foto Kegiatannya:
Sementara disiplin dengan bentuk sanksi atau konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati. Sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Biasanya pembentukan sanksi atau konsekuensi dibentuk oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sanksi/konsekuensi yang akan diterima. Pada sanksi/konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek. Konsekuensi atau sanksi biasanya diberikan berdasarkan suatu pengukuran, misalnya: setelah 3 kali ditegur di kelas oleh guru karena tugasnya belum selesai, atau mengobrol, maka murid akan kehilangan waktu bermain, dan harus menyelesaikan tugas karena ketertinggalannya. Peraturan ini sudah diketahui oleh murid dan diketahui sebelumnya. Guru senantiasa perlu memonitor murid.
Sedangkan Restitusi menurut Gossen adalah:
Proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)
Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).
Ketika murid berbuat salah, kita tidak bisa memotivasi murid untuk menjadi baik, kita hanya bisa menciptakan kondisi agar mereka bisa melihat ke dalam diri mereka. Kita seharusnya mengajari mereka untuk menyelesaikan masalah mereka, dan berusaha mengembalikan mereka ke kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat. Dan untuk mengembalikan mereka ke kelompok dengan karakter yang lebih kuat bukanlah dengan cara memberi hukuman dan sanksi, tetapi restitusi.
Kenapa Harus Restitusi bukan hukuman atau sanksi?
Karena restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.
Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menang-menang.
Ada peluang luar biasa bagi murid untuk bertumbuh ketika mereka melakukan kesalahan, bukankah pada hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat memilih untuk belajar dari pengalaman dan membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang. Ketika guru memecahkan masalah perilaku mereka, murid akan kehilangan kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang berharga untuk hidup mereka.
Berikut contoh kegiatan Restitusi yang sudah dilakukan:
Klik Link untuk buka video di bawah ini:
Video Restitusi - Budaya Positif
Pengimbasan Modul 1.4 Budaya Positif
Setelah menerapkan Budaya Positif di kelas dan sekolah, penulis bersama dua rekan guru CGP yakni Ibu Avni Apriliyanti, S.s dan Bapak Imam Susilo M.Pd membagikan pemahaman dan pengalaman dalam menerapkan Budaya Positif. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin, 7 Pebruari 2022 secara Daring. Hal ini dikarenakan perkembangan COVID 19 Omicron di Tangerang Selatan meningkat, maka Walikota mengeluarkan edaran, sekolah di Daringkan kembali mulai tanggal 7-18 Pebruari 2022. Kegiatan ini berlangsung selama 2 jam Peserta yang mengikuti kegiatan berjumlah 35 orang. Namun saat aktifita sesi foto virtual tinggal 20 orang.
Berikut foto flyer undangan dan kegiatan saat kami melakukan pengimbasan:
Berikut video kegiatan Pengimbasannya :
Klik link untuk menonton video berikut
Komentar
Posting Komentar